Tuesday, January 6, 2015

TPQ Ala Ibu-ibu

Beberapa minggu belakangan, ibu-ibu di tempat saya beramai-ramai belajar ngaji Al Qur'an lagi. Awal mulanya, ada seorang perempuan yang menyewa rumah tetangga saya untuk tempat tinggal. Beliau itu seorang guru ngaji yang mengajarkan membaca Al Qur'an baik kepada anak-anak maupun orang dewasa. Mungki itulah cara Allah untuk memberikan hidayah. Ibu-ibu kemudian berkeinginan untuk belajar membaca Al-Qur'an dari iqro'. Keinginan itu berawal dari kesadaran akan kurangnya kefasihan dalam membaca Al-Qur'an. 

Gayung pun bersambut. Sang guru ngaji menyanggupi untuk mengajari mereka seminggu sekali selepas isya'. Kira-kira ada sekitar 15 orang yang ikut belajar ngaji. tidak banyak memang, tapi sangat menyejukkan melihat semangat belajar mereka di usia yang sudah tidak muda lagi. tetapi yang ikut bukan cuma para tetua saja. Ada juga beberapa ibu muda dan yang belum ibu-ibu seperti saya hehehe. Saya sendiri sadar betul kemampuan saya membaca Al-qur'an masih jauh dari sempurna. Karenanya saya tidak melewatkan kesempatan ini.

"Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya". Begitulah kutipan hadits yang mengingatkan kita untuk senantiasa belajar Al-Qur'an dan jika sudah bisa gantian mengajarkannya pada orang lain yang belum bisa. Sang guru ngaji yang berpenampilan kalem itu dengan sabar mengajari ibu-ibu tanpa harus menggurui. Semoga Alloh memberikan limpahan pahala kepada  beliau.


  

Wednesday, December 31, 2014

Tahun Baru, Tragedi, dan Doa

Gak terasa sudah masuk 2015 ya. Bumi semakin menua , begitupun kita. Mengingatkan pada diri saya sendiri untuk terus berusaha memperbaiki diri. Apa yang belum bisa tercapai di 2014 semoga bisa dicapai di tahun 2015 ini. Meninggalkan hal-hal yang kurang di baik di masa lalu dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Di Indonesia sendiri, secara umum tahun 2015 ditutup dengan suasana sedih akibat tragedi kecelakaan pesawat Air Asia QZ85018 rute Surabaya -Singapura. Mari kita doakan semoga semua penumpang bisa ditemukan dalam kondisi apapun. Begitulah takdir. Niat hati ingin berlibur merayakan pergantian tahun, berakhir dengan duka. Seperti itulah jika Alloh sudah menghendaki mengambil hamba-Nya kembali ke sisi-Nya. Tidak ada yang bisa menghindar. Itu sekaligus menjadi alarm bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup agar memperbanyak bekal menuju rumah abadi.

Sebelumnya kita juga dibuat berduka dengan tragedi tanah longsor di Karangkobar, Banjarnegara yang menewaskan sekitar 100 orang. Sebuah tragedi yang terjadi tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Tidak peduli kita sedang tidur, berjalan, atau naik kendaraaan, jika Allah sudah berkehendak mencabut nyawa umatnya maka saat itu juga akan terjadi. 

Entah kebetulan atau bagaimana, hampir setiap kali menjelang tahun baru selalu terjadi kecelakaan maupun bencana besar. Takdir memang tidak dapat ditolak, namun ini sedikit mengingatkan kita agar tidak berlebihan utamanya dalam menyambut tahun baru. Semua orang ingin berlibur dan bersenang-senang baik di luar kota mauoun di luar negeri. Akibatnya lalu lintas menjadi sangat padat dan rawan kecelakaan.

Jadi mari kita menyambut pergantian dengan bijak dan tidak berlebihan. Jika memang tidak memungkinkan berlibur ke luar kota, liburan di tempat yang dekat dengan tempat tinggal kita rasanya sudah cukup. 

Akhirnya, mari kita memasuki tahun 2015 dengan hati dan pikiran yang lebih bersih agar kita bisa menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga pemerintahan yang baru juga bisa terus menunjukkan kinerja yang bagus agar Indonesia bisa lebih berjaya. Dan jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan badan agar bisa diberi waktu lebih untuk menjalani kehidupan di dunia. 

 




Wednesday, December 17, 2014

Kurikulum dan Kondisi Psikologis Siswa

Bicara mengenai kurikulum pendidikan di Indonesia memang gak ada habisnya. Sebuah keputusan cukup mengejutkan dibuat oleh bapak Menteri Anies Baswedan. Beliau menginstruksikan penghentian penerapan kurikulum 2013 di beberapa sekolah. Terlepas dari pro kontra yang ada saya sendiri sebagai orang awam kurang begitu srek dengan kurikulum ini. Alasannya banyak tenaga pendidik yang sejatinya belum siap untuk mengaplikasikannya di kelas. kurangnya waktu sosialisasi dan pelatihan dinilai menjadi salah satu sebabnya. 

Para siswa pun juga belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan kurikulum 2013. Bahkan mungkin juga banyak yang tidak tahu tentang pergantian kurikulum ini. Bagi mereka PR bertumpuk sudah cukup menyita waktu. Keponakan saya yang duduk di kelas 5 madrasah ibtidaiyyah setiap harinya harus menerima sekitar 4 mata pelajaran di kelas. belum lagi tugas merangku dan PRnya. Entah saya yg lebai atau bagaimana, rasanya kasihan sekali melihatnya. Dan parahnya hanya sedikit yg bisa mereka pahami. 

Perbaikan Kurikulum memang diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan anak bangsa. Namun juga sangat penting untuk memperhatikan kondisi psikologis para siswa. Kebanyakan siswa itu tidak memahami pelajaran karena sudah pasrah dan takut duluan sebelum dijelaskan. Jadi ya ketika dijelaskan sudah gak ada semangat untuk mendengarkannya. Waktu masih sekolah saya sendiri sering seperti itu. Menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana membuat para siswa  merasa nyaman berada di kelas dan memiliki gambaran tentang tujuan dari belajar itu sendiri. Apalagi untuk siswa sekolah dasar. Janga hanya menyuruh mereka mengerjakan tugas dari internet yang kebanyakan justru disalahgunakan.

Jadi ada baiknya masalah psikologis siswa juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam menyusun kurikulum. Para guru hendaknya mengerti betul tentang bagaimana memahami kondisi psikolgis siswanya agar transfer ilmu bisa berjalan dengan lancar tanpa membebani siswa maupun gurunya.


Sunday, October 26, 2014

Belajar dari Ibu Menteri Susi


Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti
Ada yg menarik saat pengumuman nama 34 menteri kabinet Jokowi-JK kemarin. Seorang wanita yg SMA nya tidak selesai diangkat jadi menteri Kelautan dan Perikanan. Gak salah milih tuh? Ternyata pilihan Jokowi -JK pada ibu Susi bukanlah sebuah pilihan ngawur tanpa alasan. Ibu Susi adalah salah satu perempuan Indonesia yang memiliki rekam jejak yang luar biasa meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tengok saja di wikipedia deretan sepak terjang ibu ini. 

Bermula dari usaha jual ikan dan sekarang menjadi menteri kelautan & perikanan. Subhanalloh, ini bisa menjadi contoh nyata bagi masyarakat Indonesia bahwa ilmu itu bisa didapat dimana saja. Bahwa ijazah pendidikan tinggi bukanlah segala-galanya. Jabatan menteri bukan jabatan yang main-main sehingga Pak Jokowi - JK pasti sudah memiliki pertimbangan matang ketika menunjuk Ibu Susi sebagai menteri yang akan mengurusi masalah kelautan di Indonesia.Seperti kita ketahui sebagian besar wilayah Indonesia adalah perairan. Banyak masalah utamanya kesejahteraan hidup para nelayan yang masih terus menjadi PR bagi pemerintah. Tugas berat telah menanti untuk segera ditangani oleh Ibu susi.

Pola pikir ibu susi harusnya menjadi contoh bagi kita yang ingin maju dan mandiri. Negeri ini harus memiliki banyak pengusaha seperti beliau agar kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebuah pola pikir yang tidak hanya ingin mensejahterakan diri sendiri namun juga mensejahterakan orang lain. Dan sekarang ini beliau rela mengabdikan diri bagi Indonesia demi memajukan kesejahteraan rakyatnya. Semoga beliau dapat menjalankan amanah dg baik dan selalu meberikan contoh yg baik bagi rakyat Indonesia. 

Selamat bekerja Bu!

Friday, October 24, 2014

Malam 1 Syuro

Selamat Tahun baru Hijriah .........
semoga kita bisa menjadi hamba Alloh yg bisa terus memperbaiki diri

Sore tadi aku ikut berdesak-desakan di bis dengan orang-orang yg sepertinya ingin menikmati libur 1 muharram. Kebetulan bis yg aku tumpangi adalah bis jurusan surabaya-ponorogo. Dari yang aku dengar, sepertinya banyak yg ingin menuju kota Ponorogo untuk merayakan tahun baru Islam. Entah merayakan dengan cara seperti apa. Setahuku festival reog kan sudah selesai.

Waktu di jalan di wilayah madiun terlihat banyak konvoi anggota perguruan silat. Pantas saja banyak polisi bersiaga di pinggir jalan. Biasanya mereka suka konvoi dengan melakukan aksi brutal sehingga menganggu keamanan warga sekitar. Belum lagi kalau bentrok dg perguruan silat yg gak sealiran. Serasa dunia milik mereka sendiri aja. Dengan mengendarai motor dan tanpa helm mereka menyusuri jalanan. Seolah tak peduli dengan orang-orang yang terganggu dengan sura bising motor mereka. 

Terus terang tindakan mereka itu jauh dari kesan positif menurutku. Bukankah lebih baik kalau kita melakukan doa bersama dan merenungi apa yg telah kita perbuat setahun kebelakang. Tapi ya mungkin itu sudah semacam tradisi bagi mereka. Polisi pun juga terkesan membiarkan saja konvoi-konvoi seperti ini. 

Kalau di ponorogo setauku tradisinya kalau malam 1 syuro itu "melekan". Warga beramai-ramai di depan rumah masing-masing dan tidur sampai pagi. Entah apa tujuannya, yang jelas kamu akan melihat banyak orang berkumpul di depan rumah mereka sampai pagi jika mengunjungi daearah Ponorogo di malam 1 Syuro. Kalau di tempatku sih gak ada tradisi seperti itu. Palingan cuma beberapa pemuda saja yang cangkruan di pinggir jalan.


 

Wednesday, October 22, 2014

Pendidikan vs uang

Kemaren siang aku pergi ke kantor cabang salah satu asuransi di daerah Basuki Rahmad, Surabaya. Kebetulan cuaca di sby memang panas sekali. Sebelum masuk ke kantor untuk mengurus beberapa keperluan, aku mampir dulu beli es di kaki lima dekat kantor asuransi itu. Sambil minum aku numpang duduk di dekat gerobak bapak penjual es. Kemudian kami ngobrol disitu. 

Si bapaknya cerita kalau beliau dari sebuah daerah di Jawa Tengah. Beliau merantau di surabaya sudah beberapa tahun dan mengontrak sebuah rumah. anaknya ada 4 kalau gak salah.Anaknya yang sulung sudah lulus SMA. Meskipun hanya berjualan es ternyata si bapak ini juga menginginkan anaknya untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Sayangnya si anak tidak mau kuliah. Katanya mau cari kerja saja. Padahal kalau aku dengar dari ceritanya, si Bapak punya keinginan besar agar anaknya bisa kuliah sehingga bisa mengangkat derajat keluarganya. Adiknya yang masih SMP juga memilih untuk putus sekolah dan lebih memilih bekerja di sebuah depo air isi ulang.

Mungkin masalah seperti ini banyak terjadi di kawasan perkotaan. Para pemuda yang setiap harinya disuguhi hingar bingar kehidupan glamor ala perkotaan merasa enggan untuk menuntut ilmu lebih tinggi karena merasa mencari uang lebih penting. Sebenarnya mereka bukannya tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka hanya merasa enggan saja karena tanpa kuliahpun mereka bisa dapat kerja. Terlebih lagi orangtua mereka yang kebanyakan sibuk berjualan juga tidak sempat memberi perhatian lebih utamanya untuk urusan pendidikan. Kalau sudah begini, bantuan dana pendidikan dari pemerintah yang sudah dianggarkan bisa jadi kurang efektif. Perlu adanya pengarahan pada masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan.

Friday, March 7, 2014

Kurikulum 2013 Tujuannya Bagus, Tapii................

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengakui, penerapan kurikulum baru yang telah dilaksanakan pada pertengahan 2013 lalu memang masih menyulitkan beberapa pihak terkait, salah satunya guru. Hal diungkapkan Mendikbud pada rapat kerja Komisi X DPR RI di Senayan, Selasa (4/3/2014). 
"Yang paling berat dan sering dikeluhkan oleh guru adalah mengenai penilaian hasil belajar," ujar Nuh. 

Berita diatas saya kutip dari kompas.com.  Kurikulum oh kurikulum. Dari tahun ke tahun kurikulum di Indonesia terus mengalami perubahan. Berikut adalah urutan kurikulum yg pernah dan sedang digunakan di Indonesia:
  1. kurikulum 1947, Rencana Pelajaran 1947
  2. kurikulum 1952, Rencana Pelajaran Terurai
  3. kurikulum 1964, Rencana Pendidikan 1964
  4. kurikulum 1968 yg merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964
  5. kurikulum 1975
  6. kurikulum 1984, CBSA
  7. kurikulum 1994
  8. kurikulum 2004, KBK
  9. kurikulum 2006,KTSP
  10. Kurikulum 2013
Ternyata cukup banyak juga ya kurikulum yg diterapkan pada sistem pendidikan Indonesia. Disini, saya ingin sedikit mengomentari yang terakhir, yaitu kurikulum 2013. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak menteri diatas, faktanya banyak guru yang masih bingung dg penerapan kurikulum 2013. 

Meskipun saya bukan orang yg terjun langsung dalam penerapan kurikulum 2013, setidaknya saya sudah mulai mengendus ketidaksiapan dalam penerapan kurikulum ini melalui cerita dosen saya di kampus. Beliau adalah salah satu dosen yg ditunjuk sebagai instruktur dalam sosialaisasi kurikulum 2013. Beliau menceritakannya sekitar pertengahan tahun lalu, ketika kurikulum 2013 baru saja hendak diterapkan.
Beliau bercerita bahwa waktu yg diberikan untuk sosialisasi kurikulum sangatlah mepet. Padahal saat buku-buku baru sudah mulai didistribusikan. Para instruktur sendiri belum diberi pembekalan materi yang cukup untuk melakukan pelatihan kepada para guru. Sementara, kemendikbud sudah menginstruksikan agar para guru segera diberikan pelatihan dan kurikulum 2013 dapat segera diterapkan. " Wong instrukturnya saja belum ditraining kok sudah disuruh memberi pelatihan", begitu kira-kira yg diucapkan dosen saya waktu itu.

Menurut saya, adalah sebuah keputusan sepihak jika kurikulum 2013 ini buru-buru diterapkan. Lihat saja bagaimana kebingungan yang dialami oleh para guru dalam penerapan di lapangan. Akibatnya guru tidak lagi fokus pada bagaimana mendidik anak melainkan sibuk dengan masalah-masalah teknis seperti masalah penilaian dan pembuatan rencana pembelajaran. 

Sangat amat disayangkan jika sekali lagi anak bangsa yg harus menjadi korban keegoisan para petinggi pendidikan. Siswa yg masih labil juga harus merasakan dampak kelabilan sistem pendidikan. Sebenarnya, tujuan pemerintah sangat baik, yaitu ingin memajukan kualitas pendidikan di negeri ini. Tapi para pembuat kebijakan itu mungkin tidak menyadari bahwa kebijakan yg mereka buat membuat para pelaku di lapangan semakin galau. Bahkan menurut survey yg pernah saya baca ada beberapa guru yang masih belum memahami kurikulum 2013. 
Banyak guru yang terpanggil untuk mengajar dengan niat tulus. Namun diantara mereka banyak yg akhirnya menyerah karean dihadapkan pada kerumitan sistem.  

Ini hanya sekedar opini saya saja, mohon maaf bila ada kesalahan.